Apa boleh Wanita Cukur Bersih Rambut Kemaluan? Ini Pandangannya dalam Islam

Apa boleh Wanita Cukur Bersih Rambut Kemaluan? Ini Pandangannya dalam Islam mari simak terlebih dahulu untuk sebagai bahan keyakinan.

Apa boleh Wanita Cukur Bersih Rambut Kemaluan? Ini Pandangannya dalam Islam

Potong rambut adalah keperluan manusia. Ada beragam pola, tetapi paling dasar ialah kebersihan, kerapihan dan mempercantik performa.

Namun, ada banyak hal yang terkait dengan rambut dilarang untuk wanita. Contoh, cukur bersih alis dan ditukar celak.

Ingat larangan itu, ada juga yang menanyakan, apa boleh cukur rambut kemaluan?

Pada umumnya (pubic hair) untuk wanita ialah sunnah atau disyariatkan. Walau tidak diharuskan, tetapi bersihkan rambut kemaluan adalah praktek yang disarankan untuk jaga kebersihan dan kesucian badan.

Ini berdasar hadis dari Nabi Muhammad SAW yang menyarankan umat Islam, baik lelaki atau wanita, untuk menjaga dan bersihkan badan mereka dengan lengkap.

Makna dari bersihkan rambut kemaluan untuk wanita sangat memiliki makna. Bersihkan rambut kemaluan ialah sisi dari jaga kebersihan diri, yang disebut salah satunya konsep dasar dalam tuntunan Islam.

Kebersihan badan adalah sisi dari iman, dan dengan bersihkan rambut kemaluan, wanita bisa jaga kebersihan dan kesehatan organ intim mereka.

Disamping itu, bersihkan rambut kemaluan adalah bentuk ketaatan ke sunnah Nabi Muhammad SAW. Meng ikuti sunnah-sunnah beliau ialah langkah untuk umat Islam untuk dekatkan diri pada Allah SWT dan tingkatkan berkah di kehidupan setiap hari.

Inti Bersihkan Rambut Kemaluan

Dengan bertindak ini, wanita memperlihatkan ketaatan dan penghormatan pada tuntunan agama.

Bersihkan rambut kemaluan adalah bentuk penghargaan pada diri kita dan jaga martabat sebagai seorang muslimah. Dengan menjaga badan dan jaga kebersihannya, wanita dapat merasa lebih optimis dan nyaman saat jalani kehidupan setiap hari.

Ini perkuat ide jika Islam menggerakkan umatnya untuk hidup dalam kesadaran diri yang lebih tinggi dan mempertahankan kesehatan dan kebersihan badan sebagai sisi dari beribadah ke Allah SWT.

Terpisahkan, mencuplik Bincangmuslimah.com, apa hukum dan makna bersihkan rambut kemaluan untuk wanita?

Hukum bersihkan rambut kemaluan untuk wanita sebuah kesunahan. Aisyah radhiallahu ‘anha, Nabi Muhammad SAW bersabda:

عن عا ئشة قالت قال رسول الله صلى الله عليه وسلم عشر من الفطرة قص الشارب وإعفاء اللحية والسواك والاستنشاق بالماء وقص الأظفار وغسل البراجم ونتف الابط وحلق العانة وانتقاص الماء يعني الاستنجاء بالماء
Maknanya: “Ada sepuluh hal dari fitrah (manusia); memotong kumis, memiara jenggot, bersiwak, istinsyaq (mengisap air di dalam hidung), potong kuku, bersihkan batas jari-jemari, mengambil bulu ketiak, cukur bulu pubis (kemaluan) dan istinjak (cebok) sama air.” (H.R Muslim, Abu Daud, Turmudzi, Nasa’i, dan ibn Majah)

Dicukur atau Ditarik?

Lalu seharusnya bersihkan rambut kemaluan wanita dengan dicukur atau ditarik?

Bersihkan rambut kemaluan untuk wanita, lebih bagus ditarik dibanding dicukur. Makna yang didapat dari mengambil rambut kemaluan untuk wanita yaitu supaya jaga kebersihan dan terbebas dari pada bau yang tidak enak. Menurut beberapa ulama karena hal tersebut dapat lemahkan syahwat (mengontrol syahwat).

Madzhab Maliki mengemukakakn argument yang mengatakan jika mengambil bulu kemaluan (untuk wanita) itu dapat menghaluskan kemaluannya. Sudah diterangkan oleh Sulaiman Al-Bujairimi dalam Tuhfatul Habib ‘ala Syarhil Khathib, juz I, hal. 337 seperti berikut:

وَالْأَفْضَلُ لِلذَّكَرِ الْحَلْقُ وَلِغَيْرِهِ النَّتْفُ، وَقَالُوا فِي حِكْمَتِهِ، إنَّهُ يُضْعِفُ الشَّهْوَةَ، وَالْحَلْقُ يُقَوِّيهَا وَعَكَسَ الْمَالِكِيَّةُ. وَقَالُوا: لِأَنَّ نَتْفَهَا يُرْخِي الْفَرْجَ
Maknanya: “Yang paling penting untuk lelaki ialah cukur bulu kemaluan, dan untuk wanita ialah mengambilnya. Beberapa ulama berbicara mengenai maknanya, ‘Bahwa mengambil bulu kemaluan itu dapat mengontrol syahwat, sedang cukurnya itu dapat memperkuat syahwat. Berlainan dengan ulama dari kelompok Madzhab Maliki, mereka menyatakan; ‘Karena mengambil bulu kemaluan (untuk wanita) itu dapat menghaluskan kemaluannya,'”

Walau lebih khusus untuk wanita ialah mengambil rambut atau bulu kemaluannya, jika memang dirasakan mampu meredam merasa sakit. Namun, bila memanglah tidak mampu, karena itu cukur bulu kemaluan dibolehkan dan tidak jadi permasalahan. Dan wanita memiliki hak memperoleh kesunahan. Walaupun tidak memperoleh keafdhalan atau kelebihan. Karena, yang khusus berdasar pemikiran ini ialah mengambil rambut kemaluan.

Madzhab Syafi’i memiliki pandangan yang tidak sama yaitu membandingkan muslim yang muda sama perempuan yang telah lansia. Untuk kaum hawa muslim yang muda karena itu disunnahkan untuk mengambil bulu kemaluan. Dan untuk wanita yang telah lansia, disunnahkan untuk cukurnya saja. Wallahu a’lam.

Leave a Comment

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *